Juru
Masak
Diceritakan di daerah bernama Lareh
Panjang ada seorang ahli masak bernama Makaji. Ia tak pernah pilih kasih dalam
menghadiri kenduri yang membutuhkannya, meski ia satu satunya juru masak yang
berada di Lareh Panjang. Perheltan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu,
seperti kejadian beberapa tahun lalu di pesta perkawinan Gentasari dan
Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tiga belas ekor kambing dan
berlangsung selama 3 hari, tidak berjalan mulus bahkan hampir saja batal.
Basabatuah
: “Masakan macam apa ini ? Rasanya hambar pasti bukan buatan makaji kalau besok
gulai nangka masih sehambar ini,kenduri tak usah di lanjutkan.” (ancam Sutan
Batuah)
Istri
Sutan : “Sutt jangan keras - keras malu oleh tuan kenduri.”
Basabatuah
: “Apa susahnya mendatangkan Makaji? Percuma bikin helat besar – besaran bila
menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Istri
Sutan : “Sudah mungkin Makaji ada kepentingan. Sehingga tak bisa datang ke
kenduri ini.”
Suatu hari, Azrial pulang kampung
dari Jakarta ke daerah Lareh Panjang. Untuk menengok sang ayah Makaji.
Azrial : “Assalamu’alaikum !”(mengetuk pintu)
Makaji
: “Wa’alaikum salam Azrial”
Azrial : “Ayah!” (berpelukan)
Makaji
: “Azrial ayo masuk ! ayah akan membuatkan makanan kesukaanmu.”
Azrial
: “Iya Yah aku sangat rindu sekali masakan ayah”
Setelah
masakan tersaji Azrial menanyakan beberapa hal kepada ayahnya.
Azrial
: “Separuh umur ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini
bagaimana kalau tanggung jawab ini dibebankan pada yang lebih muda mungkin
sudah saatnya ayah berhenti.”
Makaji
: “Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik
bumbu,” balas Makaji waktu itu.
Azrial
: “Kalau memang masih ingin jadi juru masak bagaimana kalau ayah jadi juru
masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi
berjauhan dengan Ayah.”
Dengan
beberapa pertimbangan Makaji pun akhirnya menyetujui saran Azrial dan akan
menjadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
Azrial
:” Ayah kenapa melamun ?” (menepuk pundak makaji)
Makaji
:”Kalu boleh beri ayah 1 kesmpatan kenduri lagi ! “
Azrial
:” Kenduri siapa ?”
Makaji
: “ Kenduri di Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah
terlanjur ayah sanggupi, malu kalau tiba tiba dibatalkan.”
Alangkah
hancurnya hati Azrial terlihat jelas pada wajahnya yang merah padam setelah
mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni,
perempuan masalalunya. Muasabab hengkangnya Azril daari Lareh Panjang tidak
lain adalah Renggogeni, anak perempun tunggal mangkudun.
Azrial
: “ Alangkah berntungnya kau Renggogeni bisa melanjutkan pendidikan di akademi
perawat di Kota.”
Renggogeni
:” Ah, biasa saja. Alhamdulillah semua ini berkat dukungan kalian.”
Masih
segar dalam ingatan Azrial.
Mangkudun
:”Hmm Azrial! Ia bukan siapa siapa, pekerjaannya hanya honorer di kantor kepala
desa, ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.”
Istri Mangkudun :” Iya, betul sekali. Azrial sangat tidak pantas bila bersanding dengan renggogeni. ‘
Istri Mangkudun :” Iya, betul sekali. Azrial sangat tidak pantas bila bersanding dengan renggogeni. ‘
Renggogeni
:” Dia laki laki taat, jujur, Bertanggung jawab, saya yakin kami berjodoh.”
Mangkudun
: “ Apa kau bilang ? jodoh?”Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan
saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat !”
Renggogeni
:” Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak ?”
Istri
mangkudun : “ Azrial memang tidak salah, namun ibu takut kelak hidupmu akan
sengsara”
Mangkudun
: “ Jatuh martabat keluarga kita bila laki laki itu jadi suamimu. Paham kau ?”
Setelah mengetahui semua itu Azrial hengkang
dari kampung pergi membawa luka hati dan mengembara untuk menghapus perasaannya
pada Renggogeni. Dalam perjalannya dikota Azrial menjalani hari-harinya menjadi
seorang pencuci piring, sedikit demi sedikit ia sisihkan sedikit uang . Dari
hasil jerih payahnya selama bertahun tahun akhirnya ia jadi juragan, punya 6 rumah makan, dan 24 anak buah yang tiap
hari sibuk melayani pelanggan. Meskipun ia seorang juragan namun tetap saja
membujang.
Bambang
: “Nak, apakah anda sudah berumah tangga?” tanya seorang saudagar tersohor di
Jakarta .”
Azrial
: “ Belum, saya masih fokus dunia kerja, saya belum terpikir akan hal itu “
Bambang
: “ Kalau tak keberatan , bapak ingin menjodohkan kamu dengan putri tunggal
saya”
Azrial
: “ Mohon maaf pak bukannya saya tak mau, tapi saya masih bingung akan hal itu
“
Mungkin
Azrial masih sulit melupakan Renggogeni atau jangan jangan ia tak sungguh
sungguh melupakan wanita itu.
Tibalah
hari dimana pesta pernikahan Renggogeni dengan perwira muda yang bernama
Yusnaldi. Pesta sungguh meriah akan tetapi masakan yang dihidangkan untuk
pengunjung kenduri sangat mengecewakan dan banyak yang menanyakan keberadaan
Makaji, dua hari sebelum kenduri Azrial datang.
Azrial
: “Ayah, sudah saatnya ayah ikut dengan ku ke Jakarta.”
Makaji
: “Lalu bagaimana dengan kenduri Mangkudun?”
Azrial
: “Ayolah ayah ini adalah permintaan seorang anak yang ingin dekat dengan
ayahnya.”
Akhirnya
Makaji mengikuti Azrial dan mungkin tidak akan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar